Jumat, 12 Juli 2013

Hebat

Oleh : Tangga
 
bagaikan tetesan hujan di batasnya kemarau
berikan kesejukan yg lama tak kunjung datang
menghapus dahaga jiwaku akan cinta sejati

betapa sempurna diriMu di mata hatiku
tak pernah kurasakan damai sedamai bersamaMu
tak ada yg bisa yg mungkin kan mengganti tempatMu

Chorus: 

Kau membuat ku merasa hebat
karena ketulusan cintaMu
ku merasa teristimewa hanya
hanya karena, karena cinta 

Kau beri padaku sepenuhnya
buatku selalu merasa berarti

kini ku merasa hebat
karena Kau yang membuatku makin kuat
jantungku bergerak cepat
semua yg berat bisa lewat
inikah cinta yg sejati

melayang ku terbang berenang di awan
tak akan kita kan lepas dan jatuh sekarang
cinta, Sang cinta, kita kan terus mencinta

betapa sempurna diriMu di mata hatiku
tak pernah kurasakan damai sedamai bersamaMu
tak ada yg bisa yg mungkin kan mengganti tempatMu 


(Bulan penuh Berkah... Meraih cintaMu seluas-luasnya... Allah, tanpaMu hamba merasa tak berarti....)

Si Empeng Yang Kontroversial

Empeng alias pacifier alias binky ini ternyata menimbulkan kontroversi yang cukup ‘seru’ di kalangan orangtua (apalagi orangtua baru !). Mungkin Anda termasuk orangtua yang ’anti’, karena pernah mendengar atau membaca pengaruh buruk penggunaan empeng terhadap kesehatan maupun kebiasaan anak.  Rekomendasi WHO dalam 10 Langkah Sukses Menyusui, juga ’melarang’ pemakaian empeng atau dot pada bayi-bayi ASI.

Tapi tahukah Anda, tidak selamanya si binky ini buruk.  Dia juga ada manfaatnya lho, asalkan digunakan pada saat-saat ia benar-benar dibutuhkan (key times), selalu dijaga kebersihannya, dan orangtua tahu kapan menghentikannya sebelum mengempeng menjadi kebiasaan buruk si kecil.  Semoga informasi berikut ini dapat menambah wawasan Anda tentang pemakaian empeng.

Bayi tak butuh empeng (pacifier)
Faktanya:  Bayi, terutama yang baru lahir, sering perlu ditenangkan.  Terutama ketika mereka merasa lelah, bosan atau karena merasa belum nyaman dengan “dunia barunya”.  Semua bayi, bahkan yang baru lahir, punya kebutuhan untuk mengempeng.  Sebenarnya, sejak masih di dalam rahim pun janin sudah mengempeng jempolnya sendiri.  Mengempeng memberikan efek menenangkan pada bayi sehingga ia dapat membuat dirinya sendiri merasa nyaman.  Jika Anda sudah melakukan berbagai cara untuk menenangkan bayi Anda, - menyusui, mengayun-ayun, menggendong, menyanyikan lagu untuknya- tapi tidak  berhasil juga, maka memberi empeng sebagai upaya terakhir untuk menenangkan si kecil, juga tidak ada salahnya. 

Empeng (pacifier) dapat menyebabkan bayi mengalami bingung puting dan mengganggu kelancaran proses menyusui.
Faktanya:  Ada benarnya.  Namun, kedua hal itu dapat dihindari kalau empeng digunakan secara bijak. Sesungguhnya, bayi jauh lebih pintar dari yang Anda kira, lho!, dan tentu saja mereka tahu benar perbedaan antara puting ibu dengan empeng.  Ketika tiba waktunya untuk menyusu, ibunya lah yang ia inginkan.  Meski demikian, jangan kenalkan empeng sebelum bayi Anda memiliki pola menyusu yang stabil, yang biasanya dicapai setelah usia 1 bulan.  Tujuannya, agar bayi Anda terlebih dulu ‘menguasai’ teknik menyusu.  Jangan pula berikan empeng untuk menunda waktu menyusui.  Sebelum memberikan empeng, pastikan bahwa bayi Anda tidak sedang lapar.  Kalau bayi Anda lapar, segera susui dia.   Kalau Anda selalu terburu-buru menjejalkan empeng ketimbang menawarkan ASI terlebih dulu setiap kali si kecil rewel, Anda jadi jarang menyusuinya.  Akibatnya, produktivitas ASI Anda akan terganggu karena ASI itu diproduksi atas dasar supply on demand.  Sebenarnya, penggunaan empeng secara bijak malah membantu untuk meningkatkan kualitas menyusui.  Mengapa demikian?  Karena, jika empeng dapat menenangkan bayi maka ibu dapat menikmati beberapa jam tidur yang tak terganggu.  Dengan istirahat yang cukup, tubuh dan pikiran ibu akan lebih segar. Keduanya merupakan modal untuk meningkatkan produksi ASI.

Penggunaan empeng dapat merusak struktur gigi-geligi anak
Faktanya:  Tergantung dari frekuensi, intensitas dan lamanya anak menggunakan empeng.  Jika bayi Anda hanya sesekali mengempeng dan hanya sampai ia berumur 1 tahun, maka Anda tidak perlu khawatir dengan perkembangan giginya.  Tapi jika anak Anda adalah “pengempeng” aktif dan meskipun umurnya sudah lebih dari 1 tahun ia masih tidak bisa lepas dari si binky, sebaiknya Anda segera berusaha untuk ‘menyapih’ si kecil dari empengnya.  Karena hal tersebut dapat membuat gigi-geliginya tumbuh tidak sebagaimana mestinya, misalnya gigi menjadi agak maju (tonggos).  Meskipun itu masih gigi susu, tetapi perkembangannya juga menentukan pertumbuhan dan letak susunan gigi permanennya nanti.

Susah sekali melepaskan si kecil dari empengnya
Faktanya:  Kebanyakan bayi akan mengurangi sendiri ketergantungannya pada empeng di kisaran umur 6 – 9 bulan, ketika ia mulai merangkak dan menjadi lebih tertarik pada hal-hal lain.  Saat bayi Anda menunjukkan tanda-tanda tidak atau kurang tertarik pada empengnya, jangan sodorkan empeng lagi.  Mungkin akan lebih sulit melepaskan empeng pada saat bayi akan tidur malam. Tapi sebaiknya begitu umur 2 tahun, anak sudah benar-benar lepas dari empengnya.  Usahakan untuk mulai menyapih (dari empeng) sebelum anak/bayi berusia 1 tahun.  Mungkin orangtua tidak ’tega’, tapi perlu diketahui, proses penyapihan empeng ini jauh lebih mudah dilakukan di usia 1 tahun daripada ketika anak sudah lebih besar (2-3 tahun). 

Sekali bayi mengempeng, ia akan tergantung pada benda tersebut untuk bisa tidur.
Faktanya:  Ada benarnya, meski hal itu tidak selamanya buruk.  Jika empeng dapat membuat bayi Anda cepat tidur dan membantunya membangun rutinitas tidur, tentu hal ini baik bagi Anda dan si kecil.  Meski begitu, Anda juga harus mengajarkannya untuk tidak memakai empeng sepanjang malam.  Bila bayi Anda sudah pulas dan si empeng terlepas, jangan masukkan kembali empeng tersebut ke mulutnya.  Kalau ia terbangun, jangan buru-buru memasukkan kembali si binky, coba gunakan ’jurus-jurus’ lainnya terlebih dulu untuk menidurkan si kecil kembali.  Pelan-pelan cobalah untuk menciptakan ritual sebelum tidur lainnya, untuk mengalihkan perhatian bayi/anak dari empeng.  Membaca buku cerita bersama, misalnya.

Penggunaan pacifier dapat mengurangi resiko sindroma bayi meninggal mendadak (SIDS)
Faktanya:  Benar, meskipun tidak berarti mutlak dapat mencegah SIDS.  Menurut hasil penelitian (yang dilakukan oleh Fern R. Hauck, M.D., seorang associate professor di bidang pengobatan keluarga di University of Virginia Health System di Charlottesville), bayi-bayi yang menggunakan pacifier ketika tidur ternyata memiliki penurunan resiko mengalami SIDS sebanyak 3 kali dibandingkan mereka yang tidak menggunakan empeng.  Karena mulutnya mengempeng, otomatis posisi muka bayi ketika tidur selalu menghadap ke atas (tidak tengkurap), sehingga pernafasannya lebih lancar.

Penggunaan empeng dapat menyebabkan bayi atau batita terkena infeksi telinga.
Faktanya:  Benar.  Aktivitas menyedot yang terjadi ketika bayi mengempeng dapat “menarik” cairan dari kerongkongan ke saluran tengah telinganya.  Hal ini menyebabkan telinga si kecil lebih mudah terinfeksi bakteri.  Teori yang lainnya adalah bayi-bayi bisa sakit akibat terpapar kuman-kuman yang mungkin ada pada empeng dotnya.  Karenanya, bersihkan dan sterilkan empeng setiap hari dan jangan biarkan bayi maupun anak Anda yang lain bermain-main dengan empeng tersebut.  Sangat dianjurkan,  di usia 2 tahun batita Anda sudah bebas dari empeng.

Penggunaan empeng dapat mengganggu/menghalangi perkembangan kemampuan verbal anak (speech problems).
Faktanya : Benar, jika intensitas & frekuensi mengempeng bayi/anak tinggi.  Mengempeng membuat bayi/anak merasa tenang, sehingga ia lebih senang ’mengenyot’ daripada ’mengoceh’.  Padahal dengan mengoceh, bayi belajar berbicara.  Kebiasaan mengempeng pada anak batita, membuat anak ’malas’ berceloteh. Padahal dengan banyak bicara/berceloteh, anak belajar untuk mengembangkan kemampuan berbahasanya.  Oleh karena itu, jangan berikan empeng pada saat bayi terjaga.  Dorong bayi Anda untuk mengeksplorasi lingkungan sekelilingnya, ketika ia sedang terjaga. 

Nah, jika Anda memutuskan untuk memberi bayi Anda empeng, sebaiknya perhatikan hal-hal berikut ini: 
ü      Jangan terlalu dini mengenalkan empeng. Tunggu hingga bayi Anda berusia 2-3 bulan, atau setidaknya 1 bulan.
ü      Jangan terburu-buru memberikan empeng.  Cobalah cara-cara lain terlebih dulu untuk menenangkan atau membuat nyaman si kecil.
ü      Batasi pemakainnya.  Gunakan empeng hanya pada saat-saat dimana berbagai jurus lain untuk menenangkan si kecil tak berhasil.  Misalnya, ketika bayi sedang kolik atau sering terbangun malam.
ü      Simak pula Tips untuk Menggunakan Pacifier Secara Higienis dan Aman berikut ini.
(EG)

Sumber disini

( Empeng..... nanti anak bunda, InsyaAllah ga dikasih empeng ya,,,, kita cari solusi lain supaya anak soleh soleha bunda mendapatkan ketenangan dan kenyamanannya.. Peluk saya bunda untuk anak peradaban :') )

Belajar Ikhlas

"Rahasia belajar ikhlas itu adalah putus harapan dari mahluk" -Aa Gym-

5 Latihan Ikhlas ( Aa Gym).....
1. Jangan suka ingin diketahui orang
2. Jangan ingin dilihat orang
3. Jangan ingin dipuji dan jangan takut dicaci
4. Jangan ingin dihargai
5. Jangan ingin dibalas budi

Berharap ke Mahluk itu bikin cape ga akan dapat apa-apa karena memang mahluk tak punya apa-apa, tapi berharaplah ke Allah karena Allah punya segalanya.... Melakukan sesuatu karena Mahluk itu ga dapat apa-apa dan kemungkinan lebih banyak sakit hatinya, seriusan deh... Sakit bila kebaikan tak berbalas, sakit bila tak dapat pujian, sakit bila kebaikan yang kita lakukan jadi bahan cacian.... Sudahlah berbuatlah karena Allah saja, cukup Allah karena Allah akan membalas segala yang kita lakukan tak hanya didunia tapi diakherat juga,,,,  Melakukan kebaikan karena cinta pada mahluk, sudahlah cinta mahluk mungkin cuma satu tapi niatkan melakukan kebaikan karena kecintaan pada Allah semata, efeknya bila Allah mencintai kita Mahluk langit, bumi, seluruh semesta pun akan mencintai kita...

Sedang mengingatkan diri sendiri... Allah tuntun hamba untuk selalu ada di jalanMu.... Bulan penuh berkah, Ramadhan penuh cinta... Jumat penuh berkah... Sore penuh berkah  karena titik hujan membersamai  dengan indahnya.... Saat yang tepat untuk berdoa :')






Kue Jungkong (Jongkong)

Tiba-tiba kangen kue jungkong, dulu waktu masih kecil setiap ke rumah embah pasti dibeliin kue jungkong... Wuahhhh...... Mantapss..... Nanti kalau pulang ke Bangka buat kue jungkong ahhh, jangan bisa makan aza tapi harus bisa buatnya juga.....

Kue Jungkong/Jongkong


 BAHAN:
250 g gula merah, kerok halus
75 g gula pasir

Adonan hijau:
50 g tepung beras
1 sdt tepung sagu
450 ml santan dari 1/2 butir kelapa parut
50 ml air daun suji

Adonan putih:
50 g tepung beras
1 sdm tepung sagu
400 ml santan dari 1/2 butir kelapa parut
1/2 sdteh garam (atau lebihkan sedikit sesuai selera)

CARA MEMBUAT:

* Siapkan beberapa buah mangkok / wadah tahan panas volume 100 ml.
* Adonan hijau: Campur tepung beras dan tepung sagu. Tuang santan sambil aduk-aduk hingga rata. Tambahkan air daun suji. Masak di atas api sedang sambil terus aduk hingga mengental. Angkat. Sisihkan.
* Adonan putih: Campur semua bahan, aduk rata. Sisihkan.
* Taruh 1 sdt gula merah dan 1 sdt gula pasir ke dalam masing-masing wadah. Taruh di atasnya dengan adonan hijau, kukus sesaat hingga gula meleleh. Angkat.
* Taruh lagi di atasnya dengan adonan putih. Kukus hingga matang. Angkat. Sajikan.

Untuk: 15 buah
Ahh... jadi inget kue bakpau, empek2 deket gramedia, empek2 cai, empek2 mang joni, es cincau, terus satu lagi minuman yang terakhir saya minum pas SD tapi lupa namanya kembang tahu atau air tahu itu loh air jahe manis dicampur tahu sutera... mungkin hehehe.... Astagfiruallah.. puasa... puasa... Upsss jangan inget Bangka dulu, nikmati Jatinangor dan Bandung sebaik mungkin... Senyum... Semangat... ^_^

Rabu, 10 Juli 2013

Hari Pertama Penuh Cinta ^_^

Bismillah, Alhamdulilah ramadhan hari pertama telah terlewati... Kok sedih ya, hikshiks... Seharian tadi dikampus, kejelasan sidang InsyaAllah tanggal 22 Juli ini, semoga dilancarkan dan dimudahkan... Harus banyak belajar lagi euy, secara tuh mata kuliah hanya ngawang-ngawang di otak aza... Astagfiruallah -_-"... Tobat-tobat... Pasti bisa.... Pasti mampu... Allah selalu bersamamu....

Puasa kali ini berbeda, sepi hehe... cz dikontrakan sendiri, sahur sendiri, buka puasa sendiri.... Kangen suasana Ramadhan di Rumah, Kangen suasana ramdhan di kosan dulu, dikontrakan dulu walau tinggal berdua dengan abang tapi ada tetangga sebelah kosan yang MasyaAllah dan sekarang... sendiri....  (Ga sendiri kok... kan ada Allah yang selalu menemani....)

Ramadhan terakhir di Jatinangor... Mungkin? kan ga tau episode hidup selanjutnya, tapi sepertinya iya "terakhir"... Hayo Semangat... kejar Target Ramadhan sebaik mungkin.... Kejar berjuta pahala seindah mungkin.... Allahu Akbar...

Mungkin tulisan diawal ramadhan kali ini sekedar curhat aza ya... Ga pa2kan... Bolehkan... Boleh dunkz.... Ramadhan penuh berkah.. penuh cinta... penuh perbaikan dan Insya Allah di penghujung ramadhan nanti menjadi diri yang baru, lebih baik dari sebelumnya... Senyum.... Semangat... ^_^

Berdoa yuk...
Ya Allah... Jadikanlah puasaku sebagai puasanya orang yang benar-benar puasa. Dan juga ibadah malamku sebagai ibadah orang yang benar-benar ibadah malam. Dan jagalah aku dari tidur orang-orang yang lalai.

Tilawah penutup malam ini...
"Sungguh, orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang diantara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi. sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak memperoleh penolong" (QS Ali Imran : 91)